Inilah Sejarah Perpeloncoan di Indonesia

MOS atau OSPEK seringkali disisipi aksi perpeloncoan, intimidasi senior kepada yunior dengan dalih melatih mental dan ketahanan di tempat pendidikan yang baru.


cucok.com - Kemarin (27/7) adalah hari pertama sekolah, baik untuk siswa SD, SMP maupun SMA, yang diisi dengan acara halal bi halal karena kebetulan juga sebagai hari pertama setelah libur lebaran Idul Fitri. Untuk anak didik baru, selanjutnya akan diisi dengan acara Masa Orientasi Siswa (MOS).

Inilah Sejarah Perpeloncoan di Indonesia

MOS bertujuan agar siswa baru dapat mengenal lingkungan sekolah dengan baik seperti tata tertib sekolah, pembagian ruang kelas, ruang guru dan administrasi sekolah, pengenalan fasilitas sekolah seperti perpustakaan atau laboratorium serta pengetahuan tentang kegiatan akademik dan non akademik yang ada di sekolah. MOS biasanya di jalankan oleh pengurus OSIS atau panitia khusus yang dibentuk khusus dengan pengawasan guru.

Namun sayangnya, tak jarang MOS di lingkungan atau OSPEK di lingkungan kampus, seringkali disisipi aksi perpeloncoan yang dilakukan oleh senior kepada peserta didik baru. Dalam beberapa tahun terakhir, sering kita mendengar di pemberitaan, siswa/mahasiswa menjadi korban kekerasan senior pada masa MOS atau OSPEK tersebut.

Kegiatan MOS atau OSPEK ternyata merupakan warisan kolonial penjajah Belanda. Menurut beberapa catatan sejarah, kegiatan perpeloncoan sudah ada sejak tahun 1898 di Sekolah Pendidikan Dokter Hinda. Kala itu, peserta didik baru menjadi 'jongos' para seniornya dengan meminta mereka untuk membersihkan ruang kelas.

Aksi perpeloncoan tersebut terus terjadi setiap tahun dan sudah menjadi tradisi setiap siswa baru masuk di hari pertama sekolah. Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan saat era Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942), sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Meski kegiatannya dibuat menjadi lebih formal, namun aksi 'mempermalukan' anak baru tersebut seringkali juga tak lepas dari aksi kekerasan.

 

Tradisi OSPEK makin menjadi dengan meminta siswa baru 'berdandan' heboh dan membawa barang tertentu yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan pendidikan. Dalam kegiatannya, MOS dan OSPEK juga di suguhi dengan aksi 'marah-marah' para senior dengan dalih mendisiplinkan dan melatih mental siswa baru. Tak jarang aksi itu juga berujung pada kekerasan secara fisik, hingga muncul korban jiwa.

Kini Kementrian Pendidikan sudah meminta sekolah dan kampus yang menyelenggarakan orientasi bagi peserta didik baru untuk menghindari tindakan kekerasan. Kegiatan MOS dan OSPEK harus diisi dengan kegiatan positif dan mendidik, bukan lagi penindasan yang justu bisa berakibat buruk bagi siswa baru. [via Brilio]

Nah, kalau menurutmu, MOS dan OSPEK ideal itu seperti apa?

 

Comments

Popular posts from this blog

Tips Cepat Dapat Rider Go-Jek, Ganti Saja Nama Pemesan Dengan Nama Artis

Nasabah Bank Mandiri di Bengkulu ini Tiba-tiba Terima Uang Rp. 100 Triliun

Trik Marketing Unik Starbucks, Salah Tulis Nama Agar Pelanggannya Kesal!